Bapak, Persib, dan Setia yang Tak Pernah Padam

Segelas teh hangat sudah digenggam erat, posisi duduk di kursi kayu sudah paling nyaman, dan layar televisi pun sudah menyala terang. Ini tandanya Bapak sudah siap lahir batin untuk menyerahkan seluruh perasaannya kepada klub bola kebanggannya selama sembilan puluh menit ke depan. Bagi Bapak, setiap pertandingan itu bak ritual suci yang tidak boleh terlewatkan dan diganggu oleh siapa pun.

Bapak memang tidak menggunakan atribut seperti jersey atau syal yang melilit lehernya saat menonton. Namun, dari caranya menatap layar TV dengan tajam, cemas, dan penuh harapan, sangat jelas bahwa menonton Persib bukan sekadar hiburan biasa, melainkan benar-benar urusan hate (urusan hati) bagi beliau.

Baginya, menonton Persib bukan cuma soal melihat permainan sepak bola seperti biasanya, tapi seperti masuk ke lorong waktu. Di sela-sela pertandingan, Bapak sering bercerita tentang zaman bapa keur ngora mah… saat beliau masih kuat berdesakan di tribun stadion demi mendukung klub kebanggaannya bertanding. Beliau menyebutkan nama-nama pemain idolanya pada waktu itu yang menurutnya bermain dengan hati, meski nama-nama itu tentu terdengar asing di telingaku.

Cerita Bapak sering kali terpotong karena refleks menggerutu saat pertahanan Persib digempur, atau tiba-tiba bersorak atoh (senang) ketika ada peluang emas tercipta. Pertandingan sepak bola memang penuh dengan hal-hal di luar kendali, tidak peduli sehebat apa taktik yang sudah dirancang pelatih. Apalagi saat melihat hasil seri kemarin, Bapak berkali-kali menggelengkan kepala melihat peluang yang terbuang sia-sia dan juga kepemimpinan wasit yang kurang bagus menurutnya.

Ada kalanya Persib menang, dan saat itulah air teh di tangannya terasa jauh lebih manis dari biasanya. Namun, saat Persib gagal meraih poin penuh seperti di laga terakhir melawan Persik, Bapak lebih banyak diam dan tidak banyak bicara. Meskipun suasana hatinya sedang mendung karena hasil akhir yang tidak sesuai dengan harapannya, tidak pernah sekalipun terucap kata “cape” atau berhenti menonton Persib.

Cinta Bapak kepada Persib memang tidak pernah bekerja dengan logika, melainkan sepenuhnya dengan hati. Beliau tetap percaya pada kemampuan para pemain untuk bangkit, terutama menjelang laga besar di babak 16 besar kompetisi Asia nanti. Baginya, menang atau kalah adalah bumbu dari kesetiaan yang sudah dipupuk selama puluhan tahun.

Ketika peluit panjang berbunyi, teh di gelas sudah tak lagi hangat dan matanyapun tampak merah karena lelah. Bapak pun beranjak dari kursi untuk beristirahat, namun rasa sayangnya pada Persib tidak akan pernah berubah walau usia terus bertambah. Di pertandingan berikutnya,  Bapak pasti akan kembali duduk di sana dan kembali memulai “ritualnya” di depan layar televisi dengan segelas teh hangatnya (lagi).

Editor: Tim Vox Bandung

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *